Capital Commerce Consulting
Industri & Trade-offfield-note7 min baca

30% rule of SaaS — apa yang kami temukan dari audit klien

Forrester 2025 menemukan rata-rata 25-30% SaaS license tidak terpakai. Field notes dari audit stack 6 klien — angka konkret + breakdown per kategori.

30% rule of SaaS — apa yang kami temukan dari audit klien

Forrester 2025 menyebut angka populer: rata-rata 25-30% SaaS license di organisasi mid-market tidak terpakai. Setiap kali angka ini muncul di pitch deck atau LinkedIn carousel, kami penasaran apakah cukup akurat untuk konteks Indonesian B2B.

Selama 6 bulan terakhir kami audit stack 6 klien yang kami engage untuk audit-only atau modular workflow assessment. Bukan sample besar, bukan rigorous research — tapi field observation dari engagement nyata. Ini yang kami temukan.

Pattern utilization yang konsisten

Rata-rata utilization rate per fitur SaaS di 6 klien:

Kategori SaaSAvg utilizationRange
CRM (Salesforce, HubSpot)38%22-58%
Project management (Asana, ClickUp, Notion)47%30-72%
Marketing automation (Mailchimp, ActiveCampaign)28%18-45%
HR + payroll64%50-78%
Communication (Slack, Teams)81%70-92%
Document collaboration (Workspace, M365)76%65-88%
Analytics (GA, Mixpanel)24%15-35%
Design (Figma, Adobe CC)52%35-72%

Communication + collaboration tools (Slack, Workspace, M365) = paling tinggi utilization. Distribution moat + network effect = sticky usage. Marketing automation + analytics = paling rendah — purchased dengan asumsi tim akan adopt deep, ternyata stuck di basic feature.

Forrester 25-30% angka rata-rata global. Indonesian B2B mid-market kami audit lebih variable — beberapa kategori jauh lebih rendah utilization, beberapa lebih tinggi.

Apa yang dibayar tapi tidak dipakai

Kategori "waste" yang konsisten muncul:

1. Tier "Enterprise" yang dibeli untuk 1-2 fitur

Pattern paling umum. Klien upgrade dari tier "Pro" ke "Enterprise" karena butuh 1-2 fitur spesifik (advanced reporting, SSO, custom field). 80% fitur Enterprise lain tidak relevan, tapi billing tetap full Enterprise tier.

Contoh konkret: salah satu klien bayar tier Enterprise CRM Rp 800k/seat/bulan untuk 12 seat = Rp 9.6 juta/bulan. Yang dipakai cuma SSO + custom field. Downgrade ke Pro tier (Rp 350k/seat) dengan custom integration layer dari kami untuk SSO via OAuth proxy = saving Rp 5.4 juta/bulan, ROI break-even custom build dalam 4 bulan.

2. Multiple tools dengan fungsi overlap

Pattern kedua: tim subscribe multiple SaaS yang solve problem sama. Salah satu dipakai aktif, lainnya idle tapi kontrak masih jalan.

Contoh: 1 klien punya Asana + ClickUp + Notion simultaneously. Asana untuk legacy project tracking (warisan dari ops manager sebelumnya), ClickUp untuk current sprint, Notion untuk doc + meeting notes. Cancel Asana = saving Rp 2.4 juta/bulan tanpa impact ke workflow.

3. SaaS yang baru di-subscribe karena trend

Beberapa klien punya SaaS yang di-subscribe 6-12 bulan lalu karena tren AI / automation hype, lalu jarang dipakai 3 bulan setelah. Renewal cycle datang = "terus saja, mungkin nanti dipakai" daripada cancel.

Contoh: AI writing tool yang dibeli setelah ChatGPT booming. 80% staff coba 1-2 kali, lalu pindah ke ChatGPT direct. SaaS subscription tetap aktif Rp 1.2 juta/bulan. Selama 8 bulan = Rp 9.6 juta waste.

4. Seat licensing untuk staff yang sudah keluar

Pattern administrative — seat yang assigned ke staff yang sudah resign tapi belum di-deactivate. Audit menemukan 15-20% seat di klien dengan turnover tinggi adalah ghost seat.

Apa yang TIDAK kami rekomendasikan untuk replace

Penting untuk disebut — kami TIDAK rekomendasikan rip-and-replace untuk kategori berikut walaupun utilization rendah:

  • System-of-record dengan data history — Salesforce yang isinya 5 tahun pipeline data, ERP dengan kontrak vendor + invoice history, HRIS dengan payroll history
  • Tools dengan distribution moat — communication (Slack, Workspace) dengan team workflow muscle memory
  • Regulated vertical specialized — banking core system, healthcare EMR, accounting tax-compliance

Network effect + data history + team familiarity = investment yang tidak bisa di-recreate dalam 6 bulan custom build. Forrester data terkait: SMB churn dari standalone AI tool dalam 6-12 bulan kalau force pindah dari embedded SaaS.

Pattern audit yang kami pakai

Untuk klien yang ingin audit SaaS waste:

  1. Inventory — list semua subscription + cost/bulan + jumlah seat + admin contact
  2. Utilization probe — vendor admin dashboard (kalau ada) atau staff interview per fitur
  3. Categorize per posture:
    • Retain — moat / regulated / network effect
    • Consolidate — overlap fungsi, pilih satu
    • Downgrade — tier lebih rendah cukup
    • Replace — utilization <30% + custom workflow lebih masuk akal
    • Cancel — ghost subscription / staff sudah keluar
  4. Cost-benefit analysis per item — saving SaaS vs cost replacement (custom build atau alternative tool)
  5. Implementation phasing — start dengan quick win (cancel ghost, downgrade tier), lalu medium effort (consolidate overlap), lalu high effort (custom replacement)

Audit ringkas (3-5 hari) biasanya cukup untuk identify quick win. Audit dalam (2-3 minggu) untuk full surgical scope replacement plan.

Honest disclaimer

Field observation dari 6 klien = bukan sample yang generalisable ke seluruh Indonesian B2B. Kalau Anda di vertical berbeda atau scale berbeda, angka utilization Anda mungkin different.

Yang kami lebih confident: pattern waste konsisten muncul di setiap audit yang kami lakukan. Tidak ada klien yang "stack-nya sudah optimal, tidak ada waste". Semua punya minimum 10-15% spend yang bisa di-reduce tanpa impact operasional.

Kalau Anda mau audit serupa

Kami offer engagement audit ringan (3-5 hari, scope kecil) sebagai entry point. Output: scope doc dengan list waste per kategori + saving estimate + replacement plan kalau make sense.

Kontak via WhatsApp untuk discovery call awal. Tidak commitment sampai SOW signed.


Tag internal: Pillar 3 · Right-sized · Field note · S3 Cross-reference: /services/modular-workflow · /pattern